Diperkirakan Tahun 2050 Bumi Mengalami Krisis Makanan Reviewed by Inputbali on . Inputbali,- World Resources Institute (WRI) bekerjasama dengan Bank Dunia dan UNDP dan UNEP melaporkan pada 2050 Bumi akan mengalami krisis pangan. Apakah penye Inputbali,- World Resources Institute (WRI) bekerjasama dengan Bank Dunia dan UNDP dan UNEP melaporkan pada 2050 Bumi akan mengalami krisis pangan. Apakah penye Rating: 0
You Are Here: Home » Berita Bali » Diperkirakan Tahun 2050 Bumi Mengalami Krisis Makanan

Diperkirakan Tahun 2050 Bumi Mengalami Krisis Makanan





krisis-makanan

Inputbali,- World Resources Institute (WRI) bekerjasama dengan Bank Dunia dan UNDP dan UNEP melaporkan pada 2050 Bumi akan mengalami krisis pangan. Apakah penyebab terjadinya krisis makanan secara global? Penyebabnya adalah sebagai berikut :

1. Ledakan Populasi Manusia

Terjadinya ledakan populasi manusia, karena diperkirakan populasi dunia akan tumbuh dari sekitar 7 miliar orang pada tahun 2012 menjadi 9,6 miliar orang pada tahun 2050 nanti.Lebih dari separuh pertumbuhan ini akan terjadi di Afrika Sub-Sahara, yaitu wilayah yang saat ini seperempat populasinya mengalami kekurangan gizi.

ledakan populasi manusia

2. Pergeseran Pola Konsumsi

Terjadinya Pola Konsumsi karena konsumsi daging dan susu perkapita juga meningkat—terutama di Tiongkok dan India— dan diperkirakan akan tetap tinggi di Uni Eropa, Amerika Utara, Brazil, dan Rusia. Produksi jenis makanan ini lebih intensif daripada makanan nabati.

pergeseran pola konsumsi

3. Kesenjangan Pangan

Dengan mempertimbangkan peningkatan populasi dan pergeseran pola konsumsi, dunia akan membutuhkan produksi makanan 69 persen lebih banyak dari produksi makanan pada tahun 2006 lalu.

kesenjangan pangan

4. Bukan Masalah Pendistribusian

Kita tidak bisa begitu saja mendestribusikan makanan untuk mengatasi kesenjangan pangan tersebut. Bahkan, bila kita kumpulkan semua makanan yang ada pada tahun 2009 lalu kita bagi secara rata di seluruh dunia, maka setiap orangnya masih membutuhkan 974 kalori untuk tercukupi per harinya di tahun 2050.

5. Pengaruh Pertanian Pada Lingkungan

Kita juga tidak boleh begitu saja menghasilkan lebih banyak makanan dengan cara yang kita lakukan seperti sekarang ini—kita juga harus mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkannya. Industri pertanian menyumbang hampir 1/4 emisi gas rumah kaca di bumi, menggunakan 37 persen lahan di dunia (kecuali antartika), dan menghabiskan 70% air yang diambil dari sungai, danau, dan mata air.

6. Perubahan Iklim dan Kelangkaan Air

Perubahan iklim dapat memberikan dampak negatif terhadap hasil panen, terutama di belahan bumi yang paling lapar, seperti Afrika Sub-Sahara.

Penggunaan air dan suhu yang meningkat akan meningkatkan kelangkaan air terhadap lahan-lahan pertanian di tahun 2025.

7. Hubungan Energi Makanan

Masalah besar yang lainnya adalah persaingan bahan bakar nabati (biofuel) terhadap lahan dan tanaman pertanian. Untuk menghasilkan 10% bahan bakar transportasi dari biofuel, seperti yang direncanakan beberapa pemerintah, akan membutuhkan 32% hasil pertanian global akan tetapi hanya menghasilkan 2% dari energi global. Hal itu juga akan mengakibatkan meningkatnya kesenjangan makanan sebanyak 100%. Sebaliknya, bila meniadakan penggunaan biofuel untuk transportasi, akan mengatasi kesenjangan makanan sebanyak 14%.

8. Peran Makanan dalam Perkembangan Ekonomi

Sekitar 2 miliar orang saat ini bekerja di bidang pertanian. Banyak dari mereka yang masih miskin. Dengan meningkatkan taraf hidup para petani, terutama yang masih miskin tersebut, maka diharapkan akan mengatasi kesenjangan pangan yang terjadi.

9. Keseimbangan

Agar tercapainya keberlanjutan pangan di masa mendatang, maka diperlukan 3 hal secara bersamaan: mengatasi kesenjangan pangan, mendukung perkembangan ekonomi, dan mengurangi dampak industri pertanian terhadap lingkungan.

Apakah solusi dari semua masalah itu untuk mencegah terjadi krisis makanan pada tahun 2050? Berikut adalah solusi yang diperlukan

1. Mengurangi Makanan yang Terbuang dan Limbahnya

Secara kasar, 1/4 kalori makanan di dunia terbuang atau menjadi limbah terjadi sejak dari masih di ladang hingga saat setelah dimakan. Dengan mengurangi angka ini separuhnya akan mengatasi kesenjangan pangan sekitar 20% di tahun 2050.

2. Konsumsi Makanan yang Lebih Sehat

Daging sapi adalah sumber kalori dan protein yang paling tidak efisien, karena produksinya menghasilkan emisi gas rumah kaca 6 kali lebih banyak per unit protein daripada produksi daging ayam, telur, dan daging babi. Bila 20% konsumsi global daging sapi saja dapat diganti ke konsumsi daging lain, ikan, atau susu, maka dapat menyelamatkan ratusan juta hektar hutan dan sabana.

3. Penduduk Tumbuh Seimbang

Dengan mengurangi pertumbuhan penduduk, dapat membantu menekan permintaan pangan.

4. Meningkatkan Hasil Panen

Meningkatkan lahan pertanian itu sangatlah penting, terutama di Afrika Sub-Sahara, yang saat ini memiliki panen biji-bijian paling sedikit di dunia namun akan menyumbang 1/3 seluruh kalori tambahan yang akan dibutuhkan di tahun 2050.

5. Meningkatkan Manajemen Lahan dan Air

Pertanian konservasi—misal dengan cara mengurangi pembajakan lahan, melakukan tanam gilir, dan mulching  dapat meningkatkan panen jagung di Malawi. Dengan menggabungkan tekhnik ini dengan sistem wanatani—tumpangsari dengan pohon—dapat meningkatkan hasil panen. Hal ini dapat ditingkatkan pada lebih dari 300 juta hektar lahan di Afrika Sub-Sahara.

6. Menjadikan Lahan Terdegradasi Sebagai Lahan Pertanian

Menjadikan lahan yang telah terdegradasi sebagai lahan pertanian dapat mengurangi penggundulan hutan, melindungi sumber daya alam, dan mengurangi perubahan iklim. Misalnya, lebih dari 14 juta hektar lahan terdegradasi rendah karbon di Kalimantan, Indonesia memiliki potensi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

7. Meningkatkan Produktifitas Budidaya Perikanan

Di saat penangkapan ikan tidak ada kemajuan, maka budidaya perikanan pun berkembang, dengan memproduksi hampir separuh dari jumlah total ikan yang dikonsumsi pada tahun 2009. Untuk menumbuhkan keberlanjutannya, budidaya perikanan harus mampu memproduksi lebih banyak ikan per luas lahan ait air, dan mengurangi ketergantungannya pada ikan hasil tangkap sebagai makanan.

 

8. Mengatasi Kesenjangan Pangan.

Satu solusi saja tidak akan mampu menciptakan keberlanjutan pangan di masa depan. Dengan menu strategi yang berfokus pada konsumsi (dan produksi), termasuk yang telah dijelaskan di atas, dapat mengatasi kesenjangan pangan dan menciptakan lingkungan, kesehatan, dan perkembangan yang bermanfaat. Namun, pemerintah, pengelola, dan yang lainnya harus bertindak cepat dan dengan keyakinan untuk meningkatkan solusi tersebut.

(sumber:internasional.replubika.co.id, kaskus.co.id)




comments

@inputbali_id

©2015 inputbali.com. Support by WijayaMedia | Privacy Policy | Disclaimer

Scroll to top