Pro Kontra Tajen, Apakah Tabuh Rah atau Judi? Reviewed by Inputbali on . Inputbali,- Bali selalu memiliki banyak budaya dan tradisi yang unik dan menjadi suatu hal yang menarik untuk diperhatikan. Seperti halnya Tajen atau sabung aya Inputbali,- Bali selalu memiliki banyak budaya dan tradisi yang unik dan menjadi suatu hal yang menarik untuk diperhatikan. Seperti halnya Tajen atau sabung aya Rating: 0
You Are Here: Home » Budaya Bali » Pro Kontra Tajen, Apakah Tabuh Rah atau Judi?

Pro Kontra Tajen, Apakah Tabuh Rah atau Judi?





tajen

Inputbali,- Bali selalu memiliki banyak budaya dan tradisi yang unik dan menjadi suatu hal yang menarik untuk diperhatikan. Seperti halnya Tajen atau sabung ayam, yang merupakan sebuah tradisi di Bali yang merupakan rangkaian dari upacara Dewa Yadnya yang disebut Tabuh Rah.

Tabuh rah ini mempersyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol / syarat menyucikan umat manusia dari ketamakan atau keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi. Tabuh rah juga bermakna sebagai upacara ritual buta yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya.

Dewasa ini tradisi ini mengalami pergeseran makna yang mengarah kepada perjudian. Dalam Ensiklopedia Indonesia Judi diartikan sebagai suatu kegiatan pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu pertandingan, permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya.

Pemerintah pun melakukan gebrakan adanya wacana PERDA (Peraturan Daerah) tentang tajen yang sempat menuai pro dan kontra. Jika sebagai sebuah perjudian, maka tajen dilarang agama. Dalam kitab Rg Weda ada ketentuan sebagai berikut.

Aksair ma divyah krsimitkrsasva vite ramasva bahu manyamanah tatra gavah kitavahtatra jaya tanme vi caste savitaymaryah (10.34.13).

Artinya, wahai penjudi jangan bermain judi, lebih baik menjadi petani, di sanalah kekayaan berlimpah ruah, di sanalah sapi perahanmu, di sanalah kebahagiaan istrimu, demikianlah dikatakan oleh Dewa Savita.

Baik,buruk,benar dan salah tergantung dari masing-masing individu masyarakat menilainya. Tentu sebuah tradisi atau budaya memang selayaknya harus dilestarikan dan harus diingat bahwa sebuah tradisi yang baik dan bermakna positif harus selalu di bawa tetap pada jalurnya jangan sampai merubah makna dari sebuah tradisi itu sendiri.




comments

@inputbali_id

©2015 inputbali.com. Support by WijayaMedia | Privacy Policy | Disclaimer

Scroll to top