Rupiah Menguat Pagi Ini Mengikuti Hijaunya Bursa Saham Global

inputbali.com – Nilai tukar rupiah dibuka menguat 18 poin ke level Rp 15.470 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Penguatan rupiah mengekor indeks saham global yang juga menguat di tengah masih bertahannya sentimen kenaikan bunga The Fed dan kekhawatiran resesi.

Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik melemah dari posisi pembukaan ke arah Rp 15.481 pada pukul 09.40 WIB. Namun, posisi ini masih menguat dibandingkan level penutupan kemarin di Rp 15.488 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Yen Jepang terapresiasi 0,09%, bersama dolar Taiwan 0,05%, won Korea Selatan 0,30%, peso Filipina 0,03% serta dolar Hong Kong dan rupee India 0,01%. Sebaliknya, dolar Singapura masih melemah 0,03% bersama yuan Cina 0,04%, baht Thailand 0,01% dan ringgit Malaysia 0,07%.

BACA JUGA

Ramalan Buruk Ekonomi Negara-negara 2023

Analis DCFX Lukman Leong memperkirakan rupiah bisa menguat pada perdagangan hari ini dan bergerak di rentang Rp 15.400-Rp 15.500 per dolar AS. Penguatan ini menyusul kinerja saham yang menghijau.

“Rupiah diperkirakan akan menguat, didukung oleh sentimen risk on yang kuat di bursa global dan koreksi pada dolar AS,” kata Lukman dalam risetnya, Selasa (18/10).

Wall Street ditutup menghijau pada perdagangan semalam. Dow Jones Industrial Average menguat 1,86%, S&P 500 2,65% dan Nasdaq Composite juga menguat 3,43%. Penguatan juga terlihat di bursa Asia pagi ini.Nikkei 225 Jepang menguat 0,57%, Shanghai SE Composite 0,08%, Hang Seng Hong Kong 1,29%, Kospi Korea Selatan 0,49% dan Nifty 50 India 0,73%.

Namun, menurut dia, penguatan mungkin akan terbatas. Pelaku pasar kini juga menantikan rapat bulanan Bank Indonesia yang digelar mulai besok hingga Kamis.

BACA JUGA

Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini Meski Ada Kabar Buruk dari Amerika

Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah masih akan tertekan hari ini dan melemah ke arah Rp 15.500, dengan potensi penguatan di kisaran Rp 15.400-Rp 15.420 per dolar AS. Pasar masih mengkhawatirkan kebijakan kenaikan suku bunga acuan The Fed yang agresif dan potensi resesi global.

“Mendekatnya spread suku bunga acuan AS dengan Bank Indonesia membuat aset dolar AS menjadi lebih menarik dibandingkan rupiah sehingga rupiah menjadi tertekan,” kata Ariston dalam risetnya.

Adapun The Fed berencana kembali menggelar rapat untuk menentukan arah kebijakan nya pada awal bulan depan. Pasar mayoritas berekspektasi suku bunga The Fed kembali naik 75 bps setelah kenaikan dengan besaran yang sama dalam tiga pertemuan terakhir secara berurutan.

Menurut Ariston, kekhawatiran resesi mendorong pelaku pasar masuk ke aset aman di dolar AS. Kekhawatiran resesi ekonom telah meningkat. Lembaga internasional seperti IMF telah memperingatkan bahwa risiko resesi telah meningkat di banyak negara.

Meski demikian, Ariston melihat sentimen positif terhadap pasar saham berpeluang menahan pelemahan rupiah. Selain itu, neraca dagang Indonesia yang kembali surplus bulan lalu juga bisa membantu menjaga nilai tukar rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!